Aku suka hujan di pagi hari

July 21st, 2008 by hera-novita

Aku suka hujan di pagi hari

Saat rintiknya menyentuh tanah

Menebarkan aromanya yang khas

Persenyawaan unsur langit dan bumi

Aku suka hujan di pagi hari

Udaranya yang sejuk

Seakan menggoda kita

Untuk tidak segera bangkit dan menyongsong hari

Terbuai mimpi selepas shubuh

Aku suka hujan di pagi hari

Syahdunya suasana

Menawarkan kilasan-kilasan rasa yang manis

Aku suka hujan di pagi hari

Tetesannya yang bergemericik

Laksana nada-nada yang terangkai

Menjadi sebuah simfoni

Aku suka hujan di pagi hari

Saat anak-anak berjas hujan itu

Masih tetap asyik berlarian mengejar bola

Aku suka hujan di pagi hari

Karena saat itu aku bisa meminta apa saja

Pada  Kekasihku Sang Illahi Rabbi

tapi sekarang hujan enggan datang di cikeas ini…

Pernahkah kau merasa bahwa Allah itu sangat baik?

July 21st, 2008 by hera-novita

Terkadang keinginan yang hanya sebersit saja bisa langsung terkabul dan terlaksana. Saat lapar dan perut melilit, tiba-tiba ada saja makanan yang terhidang walaupun hanya cukup untuk mengganjal perut. Atau saat hari menjelang sore, awan gelap hampir menumpahkan ribuan kubik airnya. Bis kota yang kita belum lama kita tunggu tiba-tiba muncul dan segera mengantarkan kita ke tempat tujuan. Atau saat kuku di jariku mulai panjang, dan aku tidak menemukan satu gunting kukupun untuk memotongnya, tiba-tiba aku mendapatkannya sebagai souvenir pada sebuah acara walimah. Dan puluhan bahkan ratusan peristiwa lainnya yang terkadang kita pun tak mengingatnya lagi.

Subhanallah!begitu baik dan sayangnya Allah pada kita, meski baru selintas di benak, sebersit di hati, tapi Allah langsung mengabulkannya!

Atau saat kita mendapatkan berbagai macam kemudahan, keselamatan dalam perjalanan, rezeki yang baik, badan yang sehat, teman-teman yang saling mengingatkan, kenikmatan beribadah, bahkan setiap denyut trombosit yang mengalir di nadi kita, setiap hirupan nafas, dan detak jantung kita. Bisa jadi itulah hasil doa-doa kita yang Allah tunda pengabulannya, atau Allah ganti dengan sebentuk kebaikan yang lain.

Hatta…saat kita menyangka Allah masih belum mengabulkan permintaan-permintaan kita. Saat resah gelisah masih membayang, saat kita jatuh pada titik terendah hidup kita. Sesungguhnya Allah masih bersama kita, Allah Maha Mendengar segala keluh kesah kita, Allah tidak pernah bosan, cuti dan beristirahat. Sebanyak apapun permohonan kita. Allah masih menyimpannya sebagai buah yang akan kita panen di akhirat nanti. Bahkan dikisahkan ketika di akhirat nanti Allah meyediakan sebuah peti yang berisi doa-doa kita yang belum terkabul di dunia, dan ketika manusia membukanya justru mereka menyesal, jika kami tahu balasan di akhirat itu lebih baik, niscaya kami tidak meminta menyegerakannya dan mengabulkannya dunia.

Subhanallah!

“Dan apabila hamba-hamba-KU bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a, apabila mereka berdo’a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186)

<

cahaya cerah hati

May 28th, 2008 by hera-novita

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

mereka adalah anak-anak kehidupan

yang rindu akan dirinya sendiri.

Walau terlahir melalui engkau…mereka bukan darimu

Walau mereka ada bersamamu…mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu…bukan pikiranmu

Karena mereka pemilik pikiran mereka

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh…bukan jiwa mereka

Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok…

Yang tak pernah dapat engkau kunjungi…

Walau dalam mimpi

Engkau bisa menjadi mereka

Tetapi jangan coba menjadikan mereka seperti dirimu.

Karena hidup tidak berjalan mundur

dan tidak pula berada di masa lalu

Engkaulah busur-busur tempat anak-anakmu

menjadi anak-anak panah yang hidup…diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian…

dan ia meregangkan kekuatannya

sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur

dengan cepat dan jauh

jadikanlah tarikan sang pemanah sebagai kegembiraan…

Karena ketika kita mencintai anak-anak panah yang terbang

maka anak-anak panah akan mencintai busur

yang telah melesatkannya sepenuh kekuatan

Khalil Gibran

ada yang hilang

May 15th, 2008 by hera-novita

Ada

yang hilang

Ada

yang hilang

Saat waktu memisahkan aku dari lingkaran itu

Penghujung malam yang sepi

Lisan yang tak lagi basah

Mata yang berkhianat

Fikiran yang sia-sia

Letih raga

Lelah jiwa

Tak sebanding

Dimana

kan

kucari sebuah rasa yang berkobar

Segenggam asa yang membara

Saat aku tak berada di lingkaran itu

Ingin ku berlari

Mencari…

Mengulang kembali…

Saat aku tak bersama lingkaran itu

Deretan waktu seakan tak berarti

Rangkaian episodeku terasa asing

Menyisakan sepenggal tanya…

Aku ingin bersama lingkaran itu

Lingkaran kebaikan

Fasihnya lisan-lisan suci mengagungkan-Nya

Teduhnya wajah-wajah penghamba

Sejuknya pandangan yang terjaga

Semerbak  aroma keshalihan

Saat aku berada di lingkaran itu…

Keluarlah saudaraku

May 15th, 2008 by hera-novita

Saudaraku kau tahu bencana datang lagi

Porak lagi negeri ini

Hilang sudah selera orang untuk mengharap

Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu

Sudah sedari lama berbaris-baris memanggil-manggil

Keluarlah keluarlah saudaraku

Dari kenyamanan mihrabmu

Dari kekhusuan itikafmu

Dari keakraban sahabat-sahabatmu

Keluarlah keluarlah saudaraku

Dari keheningan masjidmu

Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan

Ke pasar-pasar

Ke majelis dewan yang terhormat

Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambil keputusan

Keluarlah keluarlah saudaraku

Dari nikmat kesendirianmu

Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini

Kumpulkan kembali tenaga-tenaga yang tersisa

Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih

Di tengah badai gurun kehidupan

Keluarlah keluarlah saudaraku

Berdirilah tegap di ujung jalan itu

Sebentar lagi sejarah kan lewat

Mancari aktor baru untuk drama kebenarannya

Sambut saja dia

Engkaulah yang ia cari

                                                                                                Dari gerakan ke negara

                                                                                                H.M. Anis Matta

mari kuterangkan arti cinta

May 15th, 2008 by hera-novita

Mari kuterangkan arti cinta…

Saat kutatap jernih mata mereka

Bincang polos pembuka hari

Polah yang kadang menggemaskan

Tapi tekadang menguras energi kesabaran

Mari selami arti cinta…

Ketika berusaha menjadi teladan

Meski diri ini belum sempurna

Karena mereka melihat kita

Mengulang yang kita ucapkan

Meniru yang kita lakukan

Sudahkah kita menjadi pribadi yang pantas?

Sudahkah kau rasakan cinta?

Saat berlelah-lelah mengisi malam

Meski penat kadang memaksa sepasang mata tuk terpejam

Menyongsong esok

Akankah lebih baik dari hari ini

Apakah energi cinta?

Saat kau pinta

Pada Sang Pemilik Cinta

Untuk mengikatkan hati-hati ini dalam cinta-Nya

Dalam untaian doamu

Dalam sujud-sujud panjangmu

Cinta lah yang  mengubah sebuah peradaban

Dari lisan manusia termulia

Lahirlah gelombang cinta yang maha dahsyat

Yang mengguncang dan mengubah dunia

Akankah kita turut serta

Menebar benih cinta

Atau kita hanya sekedar melihat saja?

Berkomentar…bahkan mencela?

Mari kita bangun cinta!

Pedang Ali r.a yang bermata dua

May 14th, 2008 by hera-novita

Pedang Ali r.a yang bermata dua

Pertama ku mengenalnya…bocah berusia enam tahun yang menggemaskan, ciuman lembutnya di tanganku seakan menipuku dengan tingkah-tingkahnya di kemudian hari. Bahkan ketika dua bulan pertama ia sama sekali tak tersentuh, tidak mau mendengarkan, asyik dengan dirinya sendiri. Dan tinggallah aku yang kebingungan ketika raport porto folio akan segera dibagikan. Apa yang harus kulaporkan?tak sedikit worksheet-worksheetnya yang dibuang, disobek, bahkan digigit dan dimakan. Masya Allah! Sikapnya yang keras, kemarahan yang dilampiaskan dengan menggulingkan benda-benda di kelas, bahkan merusak tanaman di kebun, ucapan-ucapannya yang ajaib sering membuatku tertegun. Tapi ini adalah sebuah tantangan bagiku untuk menaklukan bocah aktiv ini, meski sempat ku menjadi korban tendangannya yang mendarat di ulu hati. Ku coba untuk bertahan dan sedikit bershabar.

Bismillah… Ah…akhirnya kutahu dia anak yang cerdas, saat di permulan hari di acara Ramadhan camp. Ia bersemangat untuk menjawab pertanyaan yang tak seorang pun bisa menjawabnya, kecuali dia!Ya…dia!betapa akhirnya kutahu dia seorang anak yang cerdas. Subhanallah!dan hatiku semakin girang tatkala ia dinobatkan sebagai peserta terbaik ramadhan camp. Ia bahagia!senyuman itu mengembang di wajahnya seraya mengacungkan hadiah, yang mungkin tak seberapa. Namun pada titik inilah kutahu ada sesuatu yang istimewa padanya. Sikapnya selalu antusias saat melakukan observasi dan eksperimen, dia yang selalu ingin tahu, gemar membaca, tarikan garis yang tegas dalam setiap coretan gambarnya, dan pesona kepemimpinan itu memancar, meski ia bukan yang paling besar di kelas, teman-temannya tampak segan padanya. Ia tahu nilai-nilai kebaikan itu dan mencoba untuk berbagi dengan sekelilingnya, meski terkadang caranya tak sebaik niat yang ada dalam hatinya. Aku selalu rindu wajah itu, pertanyaannya yang terkadang menggelitik, wawasannya yang luas(menuntutku untuk lebih sering membaca, nanti kalah sama muridnya, malu dong!), waktu yang kita lewatkan di kelas, karena kebiasaannya menghabiskan makan siang yang cukup lama, bermain benteng, kucing jongkok, kucing gawang, tebak-tebakan, dan kegiatan menyenangkan lainnya…

Ya Allah…jadikan rasa sayang dan cinta ini karena-Mu

Perkenankanlah ia tumbuh dewasa dalam penjagaan-Mu

Jadikan ia sebagai pemimpin yang tajam hatinya

Seperti pedang Ali r.a yang bermata dua Zulfikar…

seorang guru

May 14th, 2008 by hera-novita

Bismillah… Guru… Sosok yang harus digugu dan ditiru…

Tak sengaja jadi guru? Kecewa dengan sistem pendidikan di negri kita? Sebuah pilihan terakhir dalam menentukan pekerjaan… Lalu terdamparlah aku disini, lebih tepatnya menceburkan diri, karena seseorang yang menjerumuskanku menuju jalan kebaikan ini. Meski baru genap 18 purnama, aku membersamai langkah-langkah kecil mereka. Yang senantiasa ceria, dengan peluh berlelehan, energi yang seakan tak pernah habis, memancarkan pesona keluguan.

Sekolah Alam? Apakah itu?Aku hanya pernah mendengarnya selintas ketika salah satu temanku bekerja di Sekolah Alam Bandung. Dan ceritanya cukup membuatku terheran-heran…kok ada ya…sekolah macam begitu? Lalu tanpa terencana, begitu aku menerima surat kelulusanku ada dua orang temanku yang menawarkanku untuk mengajar di Sekolah Alam, Sekolah Alam Ciganjur, dan Sekolah Alam Cikeas. Keterpesonaan itu semakin berlanjut ketika aku melihat aktivitas anak-anak di Sekolah Alam. Begitu tertibnya, santun, taat, bebas dan ceria!konsep guru sebagai tauladan, teman yang hangat, tapi mampu mencelup anak-anak didiknya dengan nilai-nilai kebaikan. Logika Ilmiah yang ditekankan lewat pendekatan pembelajaran di alam bebas, dan tentu saja leadership, karena setiap manusia mengemban tugas sebagai Khalifatul fil ardh. Aku semakin tercengang, ketika mereka memulai hari dengan berserah diri pada sang Illahi, dan tak pernah lepas doa-doa itu tetap terlantun dalam setiap kegiatan mereka. Betapa pesona akhlaq itu terpancar di wajah-wajah mungil mereka. Keseragaman itu bukan terlihat pada pakaian, atribut ataupun segala sesuatu yang sifatnya hanya simbolis. Justru keseragaman itu terlihat dari kesamaan pola pikir, akhlaq, ketertiban ketika mereka antri menunggu giliran wudhu, cuci tangan, kerapian shaf dalam shalat. Subhanallah…bagaikan menemukan sebuah dunia kecil yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dan disini…di sekolah tempatku berdiri, ku coba untuk meraih asa yang sama, tak beda seperti yang pernah kulihat sebelumnya. Meski jalan kita masih tertatih, ilmu yang terbatas, pengalaman yang baru sedikit dikecap. Tak luntur semangat, melihat binar bola mereka yang menanti, kegiatan menyenangkan apa yang akan kita lakukan hari ini?kebaikan apa yang akan kita tularkan pada wajah-wajah polos mereka?akankah yang kita berikan membekas dan menjadi bekal mereka sebagai calon pemimpin kelak?dan sejuta pertanyaan lain yang senantiasa bermunculan setiap harinya.

Ya Allah..ku berserah diri atas segala kealpaan Nafsu diri yang kadang membelenggu

Relakah kita saat diri kita belum bisa menjadi teladan yang baik? Tegakah kita melukis noda di hati putih mereka?

Sanggupkah kita berdiri tegak di depan-Nya kelak untuk mempertanggungjawabkan ilmu yang telah kita bagi?

Ya Rabb semoga ilmu ini menjadi manfaat, dan menjadi tabungan pemberat amal di akhirat kelak! Aamiin

Cikeas, 15 November 2007